Engkau penulis hidupku...

Dialah yang mengatur dan mengisi hari-hariku...
hanya Dialah yang ku puji....

Cari Blog Ini

Laman

Kamis, 20 Mei 2010

lagu Toraja

ke solo'ko inde' rokko
ke tuka' ko sambali'
umbai messaile ko pissan
ammu male memboko'

kengku bua-bua teda
kengku ta'bi lelupang
umbai lala'ka'na' dikka'
dio randan dodomu

tumangi' anak tennge'
dao lolok barana'
umpeagi bua kayu mambela

kedenni langkan mutiro
dao patu tondokmu
umbai langkan ku dikka'
langkan ma'mallo-mallo

artinya kurang lebih:

bait pertama:
kalau kamu berjalan ke bawah
kalau kamu berjalan di sebelah sana
(agak sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia akan lebih dimengerti kalau memperhatikan keadaan alam toraja yang berbukit-bukit, dan kata2 ini juga sering digunakan dengan makna berbeda)
mungkin ada baiknya kalau kamu menoleh sekali
kalau kamu memang mau pergi jauh

bait kedua:
"kengku" artinya "seandainya saya"
yang dibait kedua baris pertama dan kedua dilanjutkan dengan kata
"bua-bua teda" dan "ta'bi lelupang" adalah buah/bunga rumput yang dapat lengket
pada kain.
baris ke-3 dan ke-4 "sepertinya saya ingin menempel di tepi sarungmu"
(orang toraja dulu suka pake sarung)

bait ketiga:
menangis anak burung tennge' (katanya ini salah satu jenis elang)
di atas pohon beringin
mengharapkan buah pohon yang jauh/tinggi

bait keempat:
kalau ada burung elang engkau lihat
di atas puncak kampungmu
mungkin itu burung elangku
burung elang yang sedang mengiba-iba (kata terakhir mungkin tak begitu tepat)

ada sebuah hal yang menarik ketika kemudian mendengarkan lagu ini dan menanyakan makna kata-kata yang belum saya ketahui. Kalau kita perhatikan lebih baik maka ada beberapa hal yang menarik
lagu ini adalah lagu yang cukup tua di Tana Toraja dan merupakan lagu yang sangat romantis. Penyampaian perasaan seseorang (sepertinya lebih condong wanita) yang ditinggal kekasihnya kemudian menyampaikan perasaan sedihnya lewat lagu. Kalmat-kalimat yang dibuatnya tidak langsung melainkan melalui bentuk (umumnya mempersonifikasikan tumbuhan dan hewan) yang membuatnya lebih bermakna dan dalam disbanding jika langsung disampaikan misalnya dengan kalimat “mamali’ tu penaangku” (hatiku rindu) dsb.

Kedua, lagu ini menggunakan beberapa kata yang kebanyakan pemuda Toraja sekarang ini tak tahu lagi maknanya seperti tennge’, bua teda, ta’bi lelupang, dan ma’mallo-mallo (ini berdasarkan survei pada beberapa teman toraja yang sekampus dengan saya. Ini sebuah hal yang tak bagus jika kita ingin kekayaan budaya kita tak berkurang, baik itu secara lokal maupun nasional.

Ketiga, ada beberapa kata yang cukup sulit dicarikan padanan katanya di dalam bahasa Indonesia. Mungkin ini terjadi karena penulis tak cukup banyak kosakata kedua bahasa tersebut ataukah karena memang tak ada, ataukah karena kita malas menggali lagi pengetahuan kita tentang bahasa itu.

Keempat: maupun music daerah sudah sangat dipengaruhi oleh music-musik pop dan juga instrument-instrumen yang digunakan. Ada contoh positif untuk hal ini, seperti yang dilakukan oleh Vicky Sianipar untuk lagu2 daerah batak. Akan tetapi di banyak daerah, termasuk di Toraja, beberapa lagu menjadi terasa sangat “aneh” seperti yang dapat dilihat di Youtube yaitu lagu “masse-massena” yang dinyanyikan oleh cewek seksi dengan music disco. Maknanya menjai kabur dan segi emosionalnya hilang. Juga perkembangan lagu toraja sekarang ini, yang mungkin memang hanya untuk mengikuti tren pasar sudah menjadi lagu-lagu yang liriknya sangat dangkal.

Mungkin ada banyak lagi yang dapat kita lihat dari lagu-lagu daerah ini yang belum dicermati oleh penulis yang akan menjadi jelas kalau kita mau memikirkannya dan mencari penyelesaian masalahnya.
editor: kakak Ronald Rantealang^^,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar